(function(i,s,o,g,r,a,m){i['GoogleAnalyticsObject']=r;i[r]=i[r]||function(){ (i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o), m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m) })(window,document,'script','https://www.google-analytics.com/analytics.js','ga'); ga('create', 'UA-76399891-2', 'auto'); ga('require', 'GTM-W93FG5M'); ga('send', 'pageview'); Dari Jalanan Menuju Istana (Bag. 1) - Sugengmu

Dari Jalanan Menuju Istana (Bag. 1)

Fto by : Sugi Wiramantri

*) Komposer Lagu Yang Melegenda

….. Burung camar, tinggi melayang Bersahutan, di balik awan Membawa angan-anganku Jauh meniti buih Lalu hilang larut di lautan.
Oh .. bahagia tiada terperi Indah nian derap jiwaku Tak kenal duka derita tak kenal nestapa Ceria penuh pesona….

Siapa yang tak kenal bait lagu tersebut, Burung Camar cukup tersohor dieranya, dipopulerkan Vina Panduwinata, membuat lagu tersebut melegenda hingga sekarang. Tiap kali menyebut Vina Panduwinata, otomatis otak kita diarahkan tembang lawasnya yang sangat fonemal era 80-an ini.

Namun tahuka kita siapa dibalik suksesnya lagu tersebut. Banyak tidak mengetahui siapa dibalik lagu itu. Tiap kali Burung Camar didendangkan kita selalu mengingat Vina Panduwinatalah yang mempopulerkan pertama kali tembang tersebut. Namun kita luput siapa orang dibalik layar yang menghasilan karya legendaris ini.

Tanpa sengaja, sekiranya pukul 20.00 WIB di kawasan jalan Gajah Mada Pontianak, saya dikenalkan pria paruh baya berkacamata minus, tinggi semampai, kulit sawo matang. Perkenalan pertama saja pria ini sudah mulai jahil, seekor kecoa mainan dia lemparkan dihadapan saya, dia berkelakar itu tanda perkenalan darinya. “Saya Aryono Huboyo Djati, kamu siapa.”sembari mengulurkan tangannya dan menyerahkan secarik kartu nama berwarna orange. Dari namanya, saya tau dia keturunan Jawa, namun saya tida tahu siapa dia sebenarnya.

Pak Djati, dia minta dipanggil, Pak Djati bercerita kedatangannya ke Pontianak, semata-mata ingin mengunjungi beberapa masjid tua yang ada, sembari mengirim doa buat anak semata wayangnya yang baru saja wafat. “Saya masih berduka, anak saya baru saja wafat, di Pontianak ini sya ingin  berkirim doa buat dia di beberapa Masjid yang melegenda,”katanya sambil meminum segelas kopi susu dihadapan. Dari perkenalan singkat ini, saya coba mencari tau siapa sebenar pria dihadapan saya ini.

Akhirnya terkuak, Aryono Huboyo Djati merupakan seorang pianis, dia mahir alat music itu. Pria  kelahiran 1 Juli 1963 ini pun akhirnya mengkisahkan salah satu karya terbesarnya yang melengga, tembang Burung Camar lahir dari karya tangan dingin pria berkacamata ini.

Ia berkisah perjalanan proses pembuatan lagu Burung Camar 24 tahun lalu. Awalnya lagu tersebut dibuat  untuk mengikuti festival di Tokyo Japan. “Saat itu kita ikut Kawakami Award 1985 Word Song Festival, kita menang di sana,” ceritanya. 

dia mengisahkan, Burung Camar bercerita tentang kepedulian terhadap sesama. Awalnya, komposisi diciptakan untuk musik bermelodi klasik. Namun, sentuhan teman-teman musisi Aryono yaitu Iwan Abdurrahman dan Chandra Darusman membuat lagu ini lebih bercorak populer hingga lebih mudah diterima khalayak

Sepulang ke Indonesia, Vina Panduwinata masuk dapur rekaman, berbagai perbaikan dilakukan guna menyempurnakan lagu tersebut, seperti sudah takdirnya, Burung Camar bersama Vina Panduwinata menuai sukses kedua kalinya. Dizamannya tembang burung Camar popular, tua muda mengingatnya. Bahkan sampai sekarang Burung Camar tak lengkang ditelan zaman.

Vina Panduwinata pun sukses besar bersama burung camar. Kemana dia terbang, Burung Camar selalu saja melekat kedirinya. Tidak saja saat itu, sekarang pun, dimanapun Vina berada, orang akan mengenalnya sebagai burung Camar.

*)Tembang Terakhir Chrisye

2007 silam sebelum meninggalnya Crisye, Aryono bercerita kepada Chrisye, dirinya sudah duda, dan menurut Crisye keadaan tersebut cocok dibuatkan lirik lagu. “Itu spontan saja, aku cerita ke dia, dia sambut baik, dan jadilah sebuah lagu terakhir yang  dinyanyikannya,”. Padahal saat itu Chrisye sedang sakit.

Hanya beberapa kawan dekatnya yang tahu Chrisye, ketika sakit parah, sempat menyanyikan sebuah lagu baru di studio rekaman, tiga pekan menjelang wafatnya. Aryono tidak berpikir terlalu jauh kalau, lagu ciptaannya menjadi tembang terakhir yang dinyanyikan Chrisye.

dia mengungkapkan “Suatu saat lagu itu anda dengar, saya yakin, takkan mudah percaya Chrisye menyanyikannya di kala kondisi tubuhnya sedemikian rapuh,”.  Vokalnya yang menggetarkan estetika jiwa tak sedikit pun mengalami perubahan.

Dia menceritakan Chrisye selalu memanggilnya Abang, meski dari segi umur Chrisye lebih tua

Doktor biologi kelautan lulusan Jepang ini mengungkapkan, selama proses perekaman, tak sekalipun Chrisye mengeluh rasa sakit. Malah bersikeras agar pengambilan vokal diulang hingga beberapa kali karena menurutnya belum memuaskan disebabkan tarikan napasnya yang tak lagi panjang seperti sedia kala, ketika masih sehat.

Aryono menyebutkan Lagu berjudul “Lirih” yang direkam diam-diam, baru diisi musik dasar piano yang dimainkan Aryono. Pria berkacamata ini piawai memainkan piano klasik dan jazz. Lama setelah masa berkabung menyelimuti keluarga Chrisye menguap perlahan-lahan, proyek rahasia Aryono dengan almarhum diungkapkannya pada Acin.

*)Siapa Aryono Huboyo Djati

Tidak banyak yang mengenal Aryono Huboyo Djati, pria multitalent ini ternyata seorang Doktor biologi lulusan Universitas Jepang. Selain Doktor, pria kurus tinggi ini juga mahir memainkan piano berirama klasik dan jazz. Tanganya gatal ketika melihat piano. Lihat saja saat berkunjung ke Pontianak, tanpa piker panjang, dia langsung memainkan piano disalah satu hotel tempatnya menginap.

Kita sudah tua, tangan ini perlu juga dilatih agar luwes bermain,”selorohnya sambil terus jemarinya bermain.

Beberapa tamu hotel pun terkesima dengan permainannya, bahkan beberapa  diantaranya berhenti sejenak mendengarkan alunan dari alat music ketuk ini. Sayang dia tak lama bermain, karena lelah Aryono memutuskan untuk beristirahat, agar esok bisa menjalankan agenda sesuai rencana.

Hidup Aryono tak sepenuhnya buat musik. Hamper seluruh waktunya dihabiskan untuk fotografi. Bahkan motret memotret menjadi penghasilan buat duda satu anak ini. Dia berkisah minatnya di dunia fotografi diwariskan dari ayahnya yang juga fotografer. “Sebelum wafat, bapak saya mewariskan sebuah kamera,” kenang pria kelahiran Jakarta 1 Juli 1963.

Untuknya, sebuah foto seumpama catatan waktu, lokasi, nama, dan peristiwa yang terjadi pada saat itu. “Foto adalah diary bagi saya,”menegaskan. Gaya yang akrab dengan orang-orang sekitar yang terlibat juga menjadi syarat untuk menghasilkan foto yang baik.

Berpegang filosofi kesederhanaan dalam memotret, Aryono akhirnya melahirkan sebuah karya monumental. Dia memotret satu bagian dari kehidupan perempuan Aceh yang ditinggal mati suaminya. “Suaminya seorang  Gerakan Aceh Merdeka. Anaknya baru berusia empat tahun ketika saya motret,” menjelaskan. Dalam suatu lelang, foto berjudul Janda Satu Anak itu terjual Rp 700 juta. Nilai yang fantastis untuk sebuah karya fotografi di Indonesia. (Bersambung)

Terima Kasih Anda Sudah Membantu menyebarkan Tulisan ini

http;//www.sugengmu.org

This article was last modified on October 20, 2017, 7:36 am

Sugeng Mulyono :