(function(i,s,o,g,r,a,m){i['GoogleAnalyticsObject']=r;i[r]=i[r]||function(){ (i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o), m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m) })(window,document,'script','https://www.google-analytics.com/analytics.js','ga'); ga('create', 'UA-76399891-2', 'auto'); ga('require', 'GTM-W93FG5M'); ga('send', 'pageview'); Nelayan Nasibmu Kini - Sugengmu

Nelayan Nasibmu Kini

Kayong Utara memiliki potensi kelautan dan perikanan yang melimpah, terutama di sekitar wilayah Pulau Maya Karimata (PMK), wilayah sangat dikenal sebagai penghasil ikan. Selain itu potensi kelautan lainnya juga tak kalah menjanjikan.
Menurut Rudi Handoko, Masyarakat Teluk Batang, Kecamatan Teluk Batang, setelah dua tahun mekar, tumbuh harapan akan terjadi revitalisasi sumber daya kelautan dan perikanan berupa upaya pengembangan potensi dan peningkatan pengelolaan sumber daya perikanan, baik melalui hasil tangkap, budi daya, dan sebagainya.

Harapan ini tentunya bukan tanpa alasan mengingat potensi yang besar itu. Harapannya tentunya adalah dengan adanya revitalisasi tersebut maka akan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan nelayan.
“Sampai saat ini belum terlihat secara nyata upaya revitalisasi itu berjalan. Kondisi nelayan masih saja tetap memprihatinkan jika dilihat dari tingkat pendapatan dan kesejahteraan,” katanya yakin. terlebih dapat dikatakan nelayan adalah salah satu kalangan masyarakat yang hidupnya rata-rata berada dalam garis kemiskinan di Kayong Utara. Ironis memang, potensi yang melimpah tapi tidak menjamin peningkatan pendapatan dan kesejahteraan. Pertanyaannya adalah siapa yang paling bertanggung jawab terhadap persoalan ini?
Suatu persoalan masyarakat kiranya akan menjadi persoalan pemerintah yang harus ditangani melalui kebijakan yang riil dan berpihak. Namun, sekarang ini belum kita temukan satu pun kebijakan kreatif dari instansi terkait yang menangani persoalan ini, terutama kebijakan mengenai revitalisasi menjadikan Kayong Utara sebagai sentra pengembangan potensi kelautan dan perikanan serta kebijakan untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan nelayan.
Sementara Hasanudin, seorang nelayan di Desa Padang, Kepulauan Karimata mengakui masyarakat nelayan bergerak dan berkembang dengan kemampuannya sendiri tanpa ada dukungan riil dari pemerintah. Jika pun ada kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh instansi terkait, selain kegiatan rutinitas, sisanya kegiatan program yang dapat dikatakan belum menyentuh untuk peningkatan dan pemenuhan hak-hak dasar nelayan.
“Ada program pendampingan nelayan, tapi tampak di lapangan tidak ada programnya seperti apa, mungkin masyarakat nelayan pun tak tahu pendampingan seperti apa dan apakah menyentuh pada kebutuhan kami,”teranya heran dengan kinerja pendamping nelayan.
Alhasil, sampai sekarang juga tidak ditemukan langkah-langkah kreatif dan strategis ke arah itu, malah seandainya jika ditanya tentang data potensi kelautan dan perikanan serta data masyarakat nelayan Kayong Utara, boleh jadi dinas terkait juga tak memiliki data yang valid. Sehingga sebagai masyarakat Kayong Utara, saya pernah malu ketika ada yang hendak melakukan penelitian tentang kemiskinan masyarakat nelayan, maka kesulitan untuk mencari data itu semua.
Padahal jika salah satu pucuk pimpinan Kayong Utara sendiri adalah seorang mantan Kepala Dinas yang menangani bidang kelautan, tapi sangat aneh tak ada gebrakan yang inovatif dan kreatif untuk mengembangkan dan mengelola potensi kelautan dan perikanan Kayong Utara.
Besar harapan, ketika Kayong Utara mekar maka pendapatan dan kesejahteraan masyarakat meningkat, termasuk kalangan masyarakat nelayan yang masih banyak hidup dalam kemiskinan dan keterbelakangan.  

Terima Kasih Anda Sudah Membantu menyebarkan Tulisan ini

http;//www.sugengmu.org

Sugeng Mulyono :