(function(i,s,o,g,r,a,m){i['GoogleAnalyticsObject']=r;i[r]=i[r]||function(){ (i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o), m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m) })(window,document,'script','https://www.google-analytics.com/analytics.js','ga'); ga('create', 'UA-76399891-2', 'auto'); ga('require', 'GTM-W93FG5M'); ga('send', 'pageview'); Pikir Itu Pelita Hati - Sugengmu

Pikir Itu Pelita Hati

Dalam situasi dimana bangsa dan rakyat Indonesia sekarang telah meninggalkan dan melupakan cara pemikiran yang jernih berdasarkan fakta serta kenyataan, telah melupakan asas kebersamaan dan kegotong royongan dan menghancurkan nilai-nilai luhur warisan nenek moyang, di saat kebiadaban menjadi merajalela tanpa menggunakan nalar dan pikiran, tak bisa lagi membedakan antara benar dan salah, fikiran siapakah yang tak akan tergugah oleh siksa derita kebiadaban yang melanda bangsa ini.? 

 Begitu banyak jenis pembodohan yang berlangsung di zaman orba. Pembodohan meruyak seperti jamur di musim hujan, karena rakyat tidak dibekali cara berpikir yang ilmiah. Rakyat tidak dididik untuk berpikir secara fakta, kebenaran dan kenyataan. Rakyat hanya dibekali dengan keharusan untuk percaya dan harus mengikut apa yang diperintahkan.

 Masa itu, bangsa tidak diajarkan untuk menggunkan otaknya, menggunakan pikirannya, dan itu diwarisi sampai sekarang. Padahal dalam kehidupan sehari-hari, sampai perobahan dalam masyarakat, manusia dibimbing oleh pikirannya. Dan pikiran ini lahir dari kerja otak. Kalau cara berpikir ngawur, maka hasilnya juga akan ngawur, tidak ada arti samasekali.

 Dan inilah kunci yang diberikan oleh Suar Suroso dalam bukunya “Pikir Itu Pelita Hati” bahwa: “Betapa pun bersimaharajalelanya pembodohan sampai sekarang, pencerahan akan terus berlangsung. Kebebasan berpikir dan bersuara akan berkembang. Pembohongan-pembohongan dan segala macam fitnah akan kian tertelanjangi. Untuk itu, satu-satunya jalan ialah mendorong maju rakyat berpikir ilmiah. 

 Berpikir ilmiah berarti mencari kebenaran dari kenyataan. Segala-galanya bertolak dari kenyataan. Inilah pandangan materialisme”. Berpikir itu adalah kerja, hasilnya adalah pikiran. Pikiran adalah hasil pencerminan kenyataan. Pikiran yang bersumber pada atau bertolak dari kenyataan adalah materialis. Cara memandang hal ihwal dengan bertolak dari kenyataan adalah materialisme. 

Semenjak manusia mulai berpikir sudah menggunakan pandangan materialis. Buku “Pikir Itu Pelita Hati” adalah merupakan seumpama cambuk buat orang-orang yang menjadi korban pembodohan yang menjurus kepada pembiadaban. Generasi muda yang menggunakan nalar dan pikiran, yang menilai sesuatu dengan fakta, kenyataan dan kebenaran pasti akan menyambut gembira atas hadirnya buku “Pikir Itu Pelita Hati” ini. Selamat membaca.

Buku Lengkap

Terima Kasih Anda Sudah Membantu menyebarkan Tulisan ini

http;//www.sugengmu.org

Sugeng Mulyono :