Sepuluh Hal yang Perlu Anda Ketahui Tentang Pengadilan Rakyat Internasional Kasus 1965

Posted on
Sumber Foto : blog.ontelstudio.com
Berikut adalah pandangan Bonnie Triyana tentang Pengadilan Rakyat Internasional Kasus 1965

Banyak kesalahpahaman terjadi terhadap Pengadilan Rakyat Internasional. Berikut sepuluh hal yang

belum banyak diketahui tentangnya.

SIDANG perdana Pengadilan Rakyat Internasional (International People’s Tribunal) dalam kasus
kejahatan serius terhadap kemanusiaan pada 1965-1966 diselenggarakan di Den Haag Selasa, 10 November, pukul 09:00 pagi waktu Belanda. Inisiatif masyarakat sipil Indonesia
itu berangkat dari itikad menyelesaikan perkara yang tak pernah terlihat jelas titik terang
penyelesaiannya oleh negara Indonesia.
Berikut sepuluh hal yang perlu diketahui tentang Pengadilan Rakyat Internasional 1965.

1. Apa itu International People’s Tribunal?

International People’s Tribunal adalah bentuk pengadilan yang digelar oleh kelompokkelompok
masyarakat dan bersifat internasional untuk membahas kasus-kasus pelanggaran
HAM berat dan dampaknya. Mekanisme ini berada di luar negara dan lembaga formal seperti
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Kekuatannya berasal dari suara para korban dan
masyarakat sipil, nasional dan internasional.

2. Apakah People’s Tribunal sama dengan Pengadilan Internasional?

Tidak. IPT berbeda dari pengadilan internasional seperti ICTR di Rwanda dan ICTY
(Yugoslavia). Pengadilan internasional dibentuk Dewan Keamanan PBB atau Mahkamah
Pidana Internasional (ICC). Otoritas IPT terletak pada landasan moralnya bahwa hukum adalah
juga instrumen masyarakat sipil yang tidak dimiliki semata oleh kekuasaan negara.

3. Kenapa People’s Tribunal harus diselenggarakan?

Sebagai pengadilan rakyat, kekuatan Tribunal terletak pada kapasitasnya untuk memeriksa
bukti-bukti, melakukan pencatatan sejarah yang akurat mengenai genosida dan kejahatan
kemanusiaan yang telah dilakukan, dan menerapkan prinsip-prinsip hukum kebiasaan
internasional pada fakta-fakta yang ditemukan. Selanjutnya, Tribunal ini melangkah memasuki
kekosongan yang ditinggalkan oleh negara, tetapi tidak dimaksudkan menggantikan peran
negara dalam proses hukum.

4. Bagaimana mekanisme dan prosesnya?

Tribunal memiliki format pengadilan HAM secara formal. Pada tahap awal, IPT membentuk
Tim Peneliti profesional dan menyusun Dewan Hakim internasional. Tim peneliti bertugas
menghimpun, meneliti, dan mengkaji data dan kesaksian, dan merumuskannya secara hukum
dan menyerahkannya kepada Tim Penuntut/jaksa.

Jaksa akan mendakwa negara, berdasarkan bukti-bukti yang disajikan tentang pihak mana
yang bertanggung jawab atas genosida dan kejahatan kemanusiaan yang meluas atau sistematis
yang dilakukan negara. Bukti yang disajikan terdiri dari dokumen, bahan-bahan visual (audio),
keterangan-keterangan saksi, dan sarana hukum lain yang diakui. Berdasarkan bahan dan bukti
tersebut, Dewan Hakim akan menimbang, merumuskan dakwaan, dan menjatuhkan sanksisanksi

hukum kepada para tersangka, serta mengusulkan reparasi dan ganti rugi bagi para
korban dan penyintas kepada negara yang harus menyelesaikannya secara hukum.
Para hakim akan menghasilkan putusan berdasarkan materi yang disajikan dan memanggil
negara terkait agar mereka menyadari bahwa sejauh ini mereka telah gagal untuk bertanggung
jawab kepada para korban, baik secara hukum maupun moral. Putusan ini juga akan
digunakan sebagai dasar untuk mengubah narasi sejarah; selain itu digunakan sebagai
dokumen lobi untuk resolusi PBB mengenai kejahatan-kejahatan ini.

5. Apa saja contoh kasus yang menggunakan mekanisme tribunal ini dan bagaimana hasilnya?

Tokyo’s People Tribunal: The Women’s International War Crimes Tribunal for the Trial of Japan’s
Military Sexual Slavery, Japan (TPT). TPT dibentuk tahun 2000 sebagai respon atas kejahatan
seksual yang dilakukan Jepang pada Perang Dunia II. Tribunal ini bertujuan mengangkat
“comfort system” agar menjadi perhatian komunitas internasional, menuntut keadilan terhadap
mereka yang bertanggung jawab, serta dampak berkelanjutan dari impunitas tersebut yang
dialami para korban.

Russell Tribunal on Palestine (RtoP). RToP dibentuk tahun 2009 sebagai tindakan atas diamnya
komunitas internasional terhadap berbagai pelanggaran hukum internasional yang dilakukan
Israel. Tujuanya memobilisasi dan mendorong keterlibatan masyarakat sipil internasional
dalam isu Palestina. Tribunal ini menyelidiki keberlanjutan pendudukan Palestina oleh Israel
serta tidak dipenuhinya berbagai resolusi PBB, termasuk opini dari Mahkamah Keadilan
Internasional (International Court of Justice) mengenai pembangunan tembok pemisah oleh Israel
di wilayah Palestina. RToP juga menyelidiki tanggung jawab Israel dan negara-negara lain,
khususnya Amerika Serikat, negara-negara Uni Eropa, dan organisasi internasional terkait
(PBB, Uni Eropa, Liga Arab).
Nama Russel diambil dari nama filsuf Inggris Bertrand Russel yang pertama kali merintis
penyelenggaraan tribunal dalam kasus kejahatan kemanusiaan Amerika dalam perang
Vietnam.

6. Apa saja contoh kasus-kasus kejahatan serius di negara lain yang belum terselesaikan?

Di negara-negara lain, kasus-kasus kejahatan serius ada yang terselesaikan dan ada yang masih
menuntut penyelesaian. Yang terselesaikan bisa dengan pendekatan keadilan yang retributif
(retributive justice), misalnya melalui mekanisme pengadilan, atau melalui mekanisme restoratif
(restorative justice) seperti rekonsiliasi, pemulihan dan kompensasi serta memorialisasi.
Sementara itu beberapa kasus kejahatan serius yang pernah terjadi di dunia masih menunggu
penyelesaian. Salah satu yang cukup terkenal adalah kejahatan serius masa lalu yang terjadi di
bawah kediktatoran Presiden Fransisco Franco di Spanyol, di mana lebih dari 100.000 orang
dibunuh dan dihilangkan, 300.000 bayi diculik, serta ratusan ribu lainnya menjadi korban
kekerasan. Hingga hari ini, pemerintah yang berkuasa di Spanyol masih belum
menindaklanjuti tuntutan penyelidikan atas kejahatan serius ini.

7. Apa tujuan IPT 1965?

IPT bermaksud mendesak penyelesaian secara hukum dan berkeadilan oleh negara atas kasuskasus

pelanggaran HAM seputar pembantaian 1965 dan dampaknya yang selama ini
terabaikan melalui pengadilan formal. IPT tidak dimaksud, dan tidak bertugas, menjadi
pengganti (substitute) dari negara untuk menggelar pengadilan formal, menjatuhkan sanksi
hukum, dan menjamin ganti-rugi dan reparasi bagi para korban dan penyintas.
Sebagai sarana tekanan politik dan moral, IPT mendorong masyarakat, yaitu warga, partai
politik, organisasi masyarakat, lembaga swadaya masyarakat, para korban dan penyintas, dan
masyarakat internasional, negara-negara luar, lembaga PBB dan organisasi lain agar mendesak
negara melakukan tugas peradilan formal, yaitu melakukan penelitian seksama, memeriksa
kasus-kasus dan kesaksian korban dan penyintas, serta menyelesaikan kasus kasus tersebut
secara hukum.

8. Kenapa IPT diselenggarakan sekarang?

Presiden baru, Joko Widodo, (sejak 20 Oktober 2014) berjanji selama kampanye pemilihannya
untuk menangani pelanggaran HAM masa lalu, termasuk yang terkait dengan 1965. Namun,
persoalan ini kemudian dikesampingkan dari daftar prioritas. Jaksa Agung yang baru, HM
Prasetyo, menyatakan bahwa “solusi permanen” harus dicari untuk pelanggaran hak asasi
manusia masa lalu termasuk “tragedi 1965” (The Jakarta Post, 22 Mei 2015). Solusi ini akan dicari
dalam upaya rekonsiliasi. Dengan demikian pemerintah mengabaikan fase pencarian
kebenaran dan keadilan, padahal tanpa fase tersebut upaya rekonsiliasi tak banyak bermakna.
Dari reaksi pemerintah saat itu telah jelas bahwa mekanisme domestik untuk dapat
melaksanakan apa yang direkomendasikan laporan Komisi 2012 sama sekali tidak memadai.

9. Mengapa Den Haag, Belanda, yang dipilih penyelenggaraan Tribunal?

Tribunal akan diselenggarakan pada 10-13 November 2015 di Den Haag. Den Haag dipilih
karena kota ini dikenal sebagai simbol keadilan dan perdamaian internasional. Peace Palace
terletak di sana, sebagaimana juga Mahkamah Pidana Internasional. Beberapa pengadilan
khusus dan penting diselenggarakan di sana atau memiliki sekretariat di kota tersebut, seperti
Tribunal Yugoslavia. Tribunal Tokyo (Pengadilan Perempuan Internasional atas Kejahatan
Perang karena Perbudakan Seksual Militer Jepang) menyelenggarakan sidang putusannya di
Den Haag (2001).

10. Apa hasil dan dampak yang diharapkan dari IPT 65 ini?

a) Untuk pemerintah Indonesia. Hasil Tribunal ini memang tidak otomatis mengikat negara
Indonesia secara legal-formal. Tetapi karena sifatnya sebagai mekanisme Pengadilan Rakyat di
tingkat internasional, ia dapat menjadi landasan hukum bagi masyarakat untuk menuntut
negara agar menghadirkan keadilan pada tragedi 1965 sekaligus memutus impunitas para
pelaku peristiwa 1965-1966. Hasil Tribunal kasus 1965 juga dapat menjadi sumber legitimasi
bagi negara Indonesia untuk membuktikan diri sebagai negara yang mampu memenuhi
3
pertanggungjawaban dan menjadi bagian dari komunitas internasional yang dihormati karena
ketanggapannya dalam penyelesaian pelanggaran HAM berat di masa lalu.
b) Untuk masyarakat umum. Hasil Tribunal ini akan menjadi preseden yang baik dalam proses
penyelesaian sejarah konflik politik Indonesia periode 1965-1966 secara lebih adil. Dengan
demikian diharapkan berkontribusi pada penciptaan iklim politik Indonesia yang mengakui
dan menghormati hak azasi manusia. Di masa depan, cara-cara berpolitik dengan
menggunakan kekerasan (baik genosida maupun kejahatan kemanusiaan) tidak akan dengan
mudah ditolerir, baik oleh negara maupun masyarakat.

c) Untuk korban. Bagi para korban tragedi 1965-1966 dan keluarganya, hasil Tribunal ini dapat
berkontribusi pada proses pemulihannya sebagai korban genosida dan kejahatan kemanusiaan.
Sebab, proses Tribunal ini dipandang sebagai salah satu upaya pencarian kebenaran tentang
peristiwa 1965 dan segala bentuk ketidakadilan yang terjadi pada para korban (dan
keluarganya). Adanya pengakuan dari negara bahwa telah terjadi ketidakadilan dan kekerasan
yang sistematis dan meluas dalam bentuk genosida dan kejahatan kemanusiaan pada periode
1965-1966 merupakan kunci dari proses pemulihan para korban.
Upaya-upaya pemulihan korban yang dimaksud di antaranya dengan proses rehabilitasi,
reparasi, dan restitusi. Dampak lain yang diharapkan dari hasil Tribunal ini adalah
menyurutnya stigmatisasi terhadap para korban dan keluarganya sebagai pihak yang memiliki
kaitan, secara langsung maupun tidak langsung, dengan PKI. Menyurutnya stigmatisasi
tersebut diharapkan akan berujung pada pulihnya kedudukan hukum para korban dan
keluarganya di hadapan hukum.
IPT juga ditujukan untuk mendapatkan pengakuan internasional atas tindak genosida dan
kejahatan kemanusiaan yang dilakukan negara Indonesia pada “peristiwa 1965” dan
setelahnya, juga atas keterlibatan negara Barat tertentu dalam kampanye militer terhadap
mereka yang disebut-sebut sebagai pendukung Gerakan 30 September.
Selain itu untuk menarik perhatian internasional yang berkelanjutan terhadap genosida dan
kejahatan kemanusiaan yang dilakukan negara Indonesia pada peristiwa pembantaian 1965
dan setelahnya; dan terhadap kelambanan negara untuk membawa pelaku ke pengadilan,
antara lain dengan mengundang Pelapor Khusus Pelanggaran HAM di Masa Lalu ke Indonesia.
Terima Kasih Anda Sudah Membantu menyebarkan Tulisan ini

http;//www.sugengmu.org

JOIN OUR NEWSLETTER
I agree to have my personal information transfered to AWeber ( more information )
Join over 3.000 visitors who are receiving our newsletter and learn how to optimize your blog for search engines, find free traffic, and monetize your website.
We hate spam. Your email address will not be sold or shared with anyone else.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.